X: Apa kau tau perbedaan antara teman dan sahabat
Y: Tahu. Teman hanya ada sesekali saja namun sahabat selalu ada untukmu.
X: Jadi. . .kau punya sahabat?
Y: Aku punya beberapa
X: Oh ya? Pasti menyenangkan sekali, saling membantu satu-sama lain.
Y: Ehm, kurasa
X: Kurasa? Kau ragu dia sahabatmu atau bukan?
Y: Tidak, aku tidak merasa ragu sedikitpun.
X: Lalu kenapa kau menjawab dengan nada sedih begitu?
Y: Tidak aku hanya
X: Memangnya kau percaya pada sahabatmu?
Y: Apa maksudmu? Tentu saja aku percaya padanya.
X: Lalu?
Y: . . . . .
Aku...Aku hanya merasa, kami entahlah, menjauh
X: Memangnya menjauh kenapa?
Y: Mmmm...Kurasa dia sudah memiliki dunia-nya sendiri
X: Begitu? Maksudnya?
Y: Kami...eh, dia mungkin sedang sibuk dengan urusannya, dengan teman dekatnya, dan teman baru yang ada di sekitarnya. Mungkin aku, terlupakan.
X: Aapa dia tidak pernah menghubungimu
Y: Mmm, tentu, tentu dia menghubungiku.
X: And so? The problem is....
Y: Tapi, dia hanya menghubungiku ketika dia memerlukan bantuanku, dan dia kembali tenggelam ke dalam dunianya ketika aku sudah selesai memberikan semua bantuan yang aku bisa.
X: Begitukah? Poor you...
Y: Ya! Aku memang malang! Kau puas?!! Kau puas?! Kurasa dari dulu sampai sekarang itu tidak akan pernah ada yang menganggapku sebagai orang yang dibutuhkan! Walau sekeras apapun aku mencoba! Aku selalu saja bisa terlupakan dengan mudah! Selalu jadi pilihan terakhir! Kau sekarang senang?!
X: Hei, kenapa kau marah padaku?
Y: AKU BENCI! Kurasa sekarang aku mulai terpengaruh dengan kata-kata seseorang yang bilang sahabat itu tidak akan berarti apa-apa kecuali kau memiliki sesuatu yang diinginkannya! Ya, aku memang egois, lalu apakah itu berpengaruh?! Lagipula aku sudah tidak bisa bersama dengan mereka! Apa pentingnya semua itu!
X: Sudahlah, lupakan saja semuanya...Kau kan bisa memaafkan dia, mungkin dia memang sedang tidak siap untuk menghubungimu.
Y: Apakah, tidak ada perasaannya untuk menanyakan kabarku? hanya sebuah sms singkat yang bertanya apa aku baik-baik saja? Oh ya, aku lupa, dia lebih mementingkan orang lain daripada menghabiskan 50 ruppiah hanya untuk menanyakanku. Bukankah hal itu ironis sekali?
X: Tidakkah kau ingat saat-saat menyenangkan kalian?
Y: Tentu saja aku ingat. Selalu. Saat aku sedang berada di kamar aku ingat kami selalu menghabiskan waktu bersama di atas tempat tidur dan saling bercerita. Saat aku makan aku selalu ingat kami selalu berbicara saat di meja makan. Saat duduk di atas ayunan aku selalu teringat kami sering menikmati waktu malas di teras. Dan bahkan, ketika aku berjalan sendirian melewati jalan panjang sepulang sekolah, aku seolah bisa merasakan dia berada di sini, dekat denganku, berceloteh tentang banyak hal. Justru karena mengingatnya perasaanku semakin sakit, karena aku tahu tidak akan bisa lagi mengalami kenangan indah itu.
X: Karena itu kau senang berjalan pelan saat sendirian?
Y: Ya, aku suka berjalan pelan sepanjang jalan keluar sekolah. Merasakan teriknya matahari, yaaah seperti yang dulu pernah aku rasakan...
X: Kenapa kau tidak bilang itu ke dia?
Y: Ah, tidak...Aku tidak ingin dia merasa sedih, dan merasa perlu memikirkan juga apa yang aku rasakan...Dia akan semakin kesulitan nantinya.
X: Apa kau tidak merasa kau terlalu baik?
Y: Tidak! Sudah kukatakan kalau aku egois kan?!
X: Baik, baik...Maafkan aku. Bagaimana rasanya?
Y: Menyakitkan...
X: Bukankah kau suka sekali mawar putih? kenapa kau tidak pernah menanamnya lagi?
Y: Percuma...tidak ada orang yang bisa aku berikan mawar putih itu, apa gunanya? hanya akan menjadi bunga kering...tak berarti
X: Perasaanmu bagaimana?
Y: Aku hanya merasa, sedikit kesepian


Tidak ada komentar:
Posting Komentar