Heiiii!!! Clamat cole cman-cman! :D
Nah, di hari yang mendung ini, gw jadi dapet inspirasi buat cerita. Dan gk tau jg kayaknya sih nih tulisan gak bagus - bagus amat. But, I really hope all of you enjoy my stories :DD
Kau tidak akan sadar kapan cinta akan datang untuk menjemputmu. Dan kau tidak akan tau kapan kau akan terjatuh ke dalam jerat cinta itu. Tapi saat cinta datang, kau pasti akan tau hanya dengan merasakannya…
ari ini sangat dingin, kukira mungkin sekarang adalah puncak musim gugur di Queensland. Aku kembali merapatkan jaketku dan menggosok kedua telapak tanganku yang---- walau sudah tertutup sarung tangan tebal tetap terasa dingin. Aku berjalan cepat agar bisa sampai ke rumah tepat waktu sebelum hari gelap atau aku akan menjadi patung manusia beku di jalan ini. Kulihat lampu jalan sudah mulai menyala di sekitar jalanan rumahku. Aaah matahari sudah tenggelam. Dan beruntungnya diriku, tiba-tiba sebuah mobil merah mendekat ke arahku, dan berhenti. Awalnya aku tak menggubris mobil itu sampai,
“Hey babe, want me to accompany you to your home? ” orang dari dalam mobil itu bertanya dan astaga! Demi Tuhan! Dia menggodaku. Aku langsung berbalik hendak meremukkan tulang hidung orang itu, begini – begini aku sudah sabuk hitam karate dan aku paling benci jika ada orang yang menyapa sembarangan diriku. Aku sudah berbalik dan memosisikan tanganku untuk menghantam muka orang itu, sampai aku melihat wajahnya. Saat aku berbalik, senyum laki – laki itu merekah lebar dan memperlihatkan deretan giginya yang putih. Aku memtar bola mata dan menurunkan tanganku ketika aku mengetahui kalau itu Jill temanku.
“Oh Jill! Astaga, kau tau aku hampir memukulmu tadi!”
“Loh? Aku salah apa?”
“Kau menyapaku!”
“Eh? Apa itu salah? Menyapa pejalan kaki wanita yang berjalan sendirian saat udara sangat dingin dan hari hampir gelap?” Jill merekahkan senyumnya lagi, kerlingan matanya membuatku ikut tersenyum.
“So, ‘babe’ do you want accompany me to my home?”
“Hahaha! Iyaa, aku tak tega melihat wanita eh-- ‘lemah’ berjalan dan membeku perlahan.” Aku menghembuskan nafas, kesal terhadap tingkah lakunya. Kemudian aku berjalan ke pintu mobil dan duduk. Jill menjalankan mobilnya, dan aku melepas sarung tanganku lalu menaruh tanganku yang kebas di depan pemanas mobil. Jill mengerutkan kening.
“Ckck, Ai, kau membeku.”
Aku hanya tersenyum kecut dan melanjutkan kesibukanku.
“Eh iya Jill ada apa kau ke daerah sekitar sini? Apa kau mau pergi ke suatu tempat?”
“Yeah, sebenarnya memang aku akan pergi ke suatu tempat.”
“Oh ya? Ke mana?”
“Kerumahmu.”
“Ke rumahku? Memangnya kau ingin apa?”
“Tidak, aku hanya ingin bermain saja, semua temanku malas di ajak bermain di cuaca sedingin ini.”
“Daan? Kenapa kau berfikir aku mau menemanimu?”
“Lalu apa kau akan mengusirku? Setelah aku mengantarkanmu pulang? Tega sekali kau.”
Mau tak mau aku tersenyum juga mendengar pernyataan Jill yang kekanakan itu.
“Dasar kau ini…Baik, tapi aku tidak punya sesuatu yang seru di rumahku kecuali coklat panas dan buku – buku yang aku yakin kau pasti tidak suka.”
“Tenaang, buka saja tasku.”
Aku membuka tas Jill dan menemukan berbagai DVD film. Bibirku mengerucut tak setuju.
“Jill, ayolah! Kau serius akan menonton semua film ini?”
“Tentu.” Jill mengatakan itu tanpa rasa bersalah.
“Kenapa kau tidak menonton di rumahmu saja? Bukankan TV di rumahmu lebih besar dan pasti lebih leluasa menonton.”
“Sudahlah Ai, anggap saja itu balasanmu ke aku setelah aku mengantarkanmu pulang.”
“Terserah kau sajalah Jill…”
Tak berapa lama, kami tiba di sebuah rumah kecil bercat krem pucat, dan dipagari oleh pagar kayu bercat sama. Jill membukakan pintu untukku dan mengekor di belakangku. Aku mengambil kunci rumah di bawah pot berwarna ungu pudar yang di atasnya bukan di tumbuhi tanaman tapi beralih fungsi menjadi tempat barang – barang, dan aku bahkan tidak tau benda apa saja yang telah aku letakkan di sana. Lalu aku membuka pintu rumah dan menyalakan semua lampu di rumah. Jill berjalan mendahuluiku, mencopot sepatunya dan meletakkan mantelnya di gantungan mantel kemudian dia bersiul santai dan melangkah ke ruang TV. Aku hanya menggeleng – geleng heran, orang ini sadar tidak kalau dia sedang ada di rumah orang? Kemudian aku melepas sepatu bootku yang usang, meletakkannya di tempat sepatu, dan menggantung syal, mantel, topi dan sarung tangan di gantungan mantel. Dan aku melangkah menuju dapur.
“Hei Jill, kau mau makan apa? Steik, kentang keju atau sup tomat?”
“Steik dan sup tomat sepertinya terdengar menyenangkan.”
“Baiklah…”
“Ai, tolong sekalian buatkan aku coklat panas dan popcorn ya.”
“Tapi berondong jagungku habis.”
Jill datang ke dapur dan melemparkan sebuah pack berukuran sedang.
“Cepat ya Ai, film tidak seru kalau tidak ada popcornya.” Jill tersenyum dan berbalik lagi menuju ruang TV. Aku menggigit bibirku, menahan agar kata – kata tidak berlompatan keluar dari mulutku. Percuma, batinku. Jill tidak bisa diajak berdebat.
Aku melanjutkan memasak steik dan membuat coklat panas juga popcorn untukku dan Jill. Setelah semua selesai, aku melepas celemekku dan membawa semua ke ruang TV. Jill sedang asyik menonton film.
“Jill, ini steik, coklat panas, dan popcornmu.”
“Hmm.” Dia hanya mengiyakan tanpa mengalihkan pandangan dari layar kaca sambil mengangkat piring steiknya.
“Jill, aku penasaran, kenapa kau tidak bermain ke rumah Julia saja? Bukankah dia pacarmu?”
“Sudah putus.”
“Apa? Putus?! Tapi, tapi, kau kan baru jadian tiga hari lalu!”
“So?”
“So, you’re playboy!”
“No.”
“Lalu kalau bukan playboy apa? Kau mendekati gadis, berpacaran, dan mencampakannya begitu saja. Bukankah itu playboy?”
“Aku bukan playboy. Aku tidak pernah menduakan gadis yang aku pacari…”
“Dasar kau ini! Nanti kalau tidak ada yang mau denganmu lagi bagaimana? Masa kau akan menjadikanku pacar?”
Jill menoleh padaku dan aku bersumpah! Jill memandangiku dengan serius.
“Jadi kau mau jadi pacarku?”
“Tentu tidak! Kalau kau cowok terakhir di bumi ini pun aku tidak mau.”
“Kenapa?”
“Karena kau playboy cap kucing kampung.”
Jill mengalihkan pandangannya ke arah TV lagi.
“Oh iya Ai, kau ada acara tidak hari minggu ini?”
“Hmm…kurasa tidak ada. Memangnya kenapa?”
“Temani aku belanja pakaian di Sydney”
“Hah? Sydney? Itu kan jauh sekali Jill masa kita bisa naik mobil ke Sydney dalam waktu sehari? Kenapa kau tidak belanja di sini saja? Mall kan banyak!”
“Anggap saja aku malas. Aku ingin cari suasana baru. Dan kita tidak akan ke Sydney dengan mobil.”
“Lalu?”
Seorang pramugari tersenyum ramah kepada aku dan Jill menawarkan jus apel. Aku tersenyum balik dan mengambil dua gelas jus itu.
“Jill, kau tidak bilang kalau kita akan pergi naik pesawat.”
“Masa? Kurasa aku sudah menyuruhmu bersiap – siap.”
“Haah…kadang aku bingung bagaimana kaum bourgeois sepertimu bisa terus menghamburkan uang tanpa menguranginya sedikitpun.”
“Yaah anggap saja kau mendapat liburan gratis dari sahabatmu.”
Kami sampai di bandara internasional Sydney beberapa puluh menit kemudian. Jill langsung memesan taxi dan kami langsung pergi ke jantung Sydney untuk berbelanja. Dan sudah ratusan kali pula Jill menyuruhku untuk memilih baju di semua toko yang kami lewati dan masuki. Aku tidak mau berutang budi kepada Jill, jadi aku selalu menolak. Jill pun hanya membeli celana jeans dan kemeja biru panjang untuknya. Bayangkan saja, ke Sydney, kurang dari sehari dan kemudian kami hanya berbelanja celana jeans dan kemeja! Astaga…
Setelah Jill dan aku berputar – putar mencari baju, akhirnya kamipun pergi. Kukira kami akan ke bandara lagi, tapi taxi berbelok kea rah pantai. Aku diam saja, walau ditanya Jill pasti hanya berkata ‘Rahasia’. Kami kini berdiri di depan taman lumba – lumba Sydney, dan Jill menggandengku masuk ke sana. Memang sudah lama aku ingin pergi ke taman ini, ingin bermain dengan lumba – lumba manis itu. Tapi, tidak sempat terus. Jill dan aku kemudian berganti pakaian renang yang telah disediakan oleh taman lumba – lumba itu. Bulu – bulu di tengkukku berdiri ketika kami menyentuh air yang dingin. Tapi itu tak mengurangi antusiasku untuk bermain dengan ikan-mamalia itu. Dan kami sampai di part permainan. Saat itu si pelatih melempar botol pelastik ke arah tengah kolam dan dengan tangkas, lumba – lumba itu berenang ke arah botol dan mendorong ke arahku. Aku yang bingung kemudian melihat ada kertas di dalam botol itu. Dan aku mengambil kertas di dalam botol itu. Saat itu aku sangat terkejut! Karena kertas itu berisi huruf – huruf besar berwarna hitam yang bertuliskan,
AI, PLEASE, BE MY GIRLFRIEND!
Aku menoleh ke arah Jill dengan mata melotot yang sangat terkejut. Jill tersenyum malu – malu,
“Ehem, aku tidak tau bagaimana aku harus mengatakannya dengan kata – kata jadii aku menuliskannya saja.”
“Kau…”
“So, what’s your answered? Will you be my girlfriend??”
“Y…yes yes…I wanna be your girlfriend”
Aku tidak percaya. Sekarang sahabat baikku menjadi kekasihku. Dan kami sudah berpacaran lebih dari setahun sekarang. Aku menatap lagi kea wan kelabu di balik pohon willow yang daunnya mulai kekuningan dan rontok. Tersenyum kepada langit musim gugur.