Kamis, 15 Desember 2011

Potongan-Potongan II

     Nah, gw juga mau ngepost lagi tentang potongan-potongan dari novel yang lagi gw kerjain. Okeh, ini beda sama potongan yang kemarin, soalnya ini novel beda lagi. Novel gw yang satu ini ceritanya tentang seorang anak yang nunggu cinta pertamanya *ini mirip sm winter in Tokyo tp ini beda kok ceritanya*





     Hari ini kota Seoul terasa sangat panas. Tumben, hari ini matahari terang-terangan menunjukkan sinarnya. Karena, kota Seoul kurasa kota yang lumayan sejuk bahkan saat di puncak musim panas sekalipun. (saatnya kita menyalahkan efek rumah kaca atau global warmning) Aku jadi ingat saat aku kecil dulu. Kenangan yang tak mungkin aku lupakan bakan sampai nanti. Aku memandang langit cerah kota Seoul, menutupi mataku agar tak silau, memfokuskan pandanganku ke satu-satunya awan kecil yang ada di langit     

***

     Namaku Sierra, aku berasal dari Indonesia. Di sana aku dipanggil Niki. Aku mengikuti Papaku yang bekerja di Seoul yang bekerja sebagai salah satu Manager suatu perusahaan. Entah apa namanya. Aku baru tinggal di sini, kota kecil di sebelah Timur Korea Selatan, Donciang (fiktif) Aku sangat menyukai kota kecilku ini. Begitu damai dan tenang. Tidak seperti di Jakarta yang selalu ribut tiap harinya.
     Umurku sekitar 6 tahun saat itu. Aku tak bisa berbahasa Korea, hanya bahasa Indonesia. Sore itu sangat cerah, Aku mengenakan kaus biru bergambar Doraemon sedang memegang baling-baling bambu dan celana pendek di atas lutut berwarna coklat. Aku memutuskan berjalan-jalan sore, mengajak anjingku Chiki. Chiki adalah anak anjing berjenis Golden rativier. Aku menamainya chiki karena aku suka jajan dengan nama yang sama di Indonesia. Lagipula, Chiki cocok dengan nama itu kurasa, Bulunya berwarna kuning keemasan, sama seperti jajan Chiki.
     Ketika aku sedang berkeliling kompleks, aku melihat sebuah bukit kecil. Yang menarik perhatianku bukan bukit itu, tapi sebuah pohon besar yang tumbuh diatasnya. Aku menuntun Chiki ke arah bukit itu. Cukup melelahkan juga. Tapi sekarang aku sudah berada di bawah bukit itu. Chiki sudah mendahuluiku, tali kekangnya terlepas dari tanganku. Chiki mendahuluiku dan kini ia menyalak riang, menantangku untuk berlomba dengannya. Akusih menyerah saja, karena aku pasti takkan bisa mengalahkan Chiki. Untuk ukuran anak anjing dia sangat hiperaktif (sungguh!) dia sangat berbeda dengan anjing golden rativier lain. Jika anjing golden rativier lain yang ekspresi wajahnya sendu dengan telinga yang melipat kebawah dengan mata yang kalem, maka Chiki justru sebaliknya. Anjing itu memiliki mata yang sangat cemerlang, dan pandangan yang mengarah lebih ke jahil daripada penurut, dan tentunya, bersemangat yang berlebihan.
     Aku akhirnya sampai di atas bukit itu. Dan melihat pohon yang tadi ada di bawah. Aku merasa bangga dan senang, bisa mencapai bukit itu. Tapi akhirnya aku sadar! Chiki tak ada! Aku baru akan berteriak memanggil namanya ketika aku mendengar suara yang lembut dengan harmoni yang indah, mengalun. Dan ternyata, suara itu berasal dari balik pohon. Akupun berjalan dan menoleh ke balik pohon, dan disanalah Chiki berbaring santai, ekornya bergoyang kesana-kemari pertanda dia sangat senang. Dan akupun melihat anak cowok yang berambut coklat-gelap, ternyata dari dialah suara itu berasal. Tanpa sadar, aku mengikuti Chiki, duduk dengan tangan diatas lutut di sebelah anak itu. Mendengarkan.Sepertinya anak itu menyadarinya karena permainannya langsung terhenti.
     Ia membuka mata, dan berpaling menatapku. Lalu berkata 'Annyeong haseyo! Jal jinaseoyo?' Aku diam, bingung. Aku menjawab 'Apa yang kau katakan? aku gak ngerti.'
Tentu saja anak itu bingung juga. Kami saling pandang selama beberapa saat, sampai tiba-tiba Chiki maju dan menjilati pipi anak itu. Dia tertawa-tawa dan kemudian berbahasa aneh lagi yang aku tidak mengerti. Aku tanpa sadar menggumamkan. 
'Dia ingin kau melanjutkan lagumu.'
'Mwo?'
Akupun mengulangi perkataan yang sama sambil menunjuk ke alat musiknya.
Dia sepertinya mengerti, lalu, mengelus kepala Chiki dan melanjutkan permainannya. Aku memejamkan mata, mendengarkan permainannya yang indah     

***

     "Iya papa....Aku baru saja sampai di Seoul. Ya, apa? tentu tidak! ya...aku baik-baik saja...oh, ayolah paps! aku bukan anak umur lima tahun lagi!" Aku kesal, kututup telfon dari Papa. Padahal umurku sudah hampir 18 dan aku sudah kuliah sekarang. Itu alasanku kembali ke Seoul. Aku mendapat beasiswa di salah satu kampus. Sebenarnya Papa menyuruhku untuk tinggal dan kuliah saja di Indonesia. Papa tak ingin jauh katanya. Tapi aku meyakinkan Papa dan berjanji akan baik-baik saja. Tapi aku sedikit khawatir juga kepada Papa, Papaku itu orangnya sedikit teledor walaupun dia sudah menduduki posisi yang tinggi di kantornya. Dia juga selalu khawatir terhadap semua yang aku lakukan. Yah, menurutku wajar juga. Papa sudah menjadi single parents sejak aku berumur empat setengah tahun. Tidak...tidak...bukan karena mereka berdua bercerai, tapi ibuku meninggal karena sakit yang dideritanya. Ayah dan Ibuku saling mencintai dan bahkan pada saat aku baru berumur sekecil itu aku bisa merasakan Papa sangat mencintai Ibuku dan juga sebaliknya. Aku ingat, saat itu aku berkata pada ibu kalau aku mau menikah dengan pria yang seperti Papa. Saat itu keduanya tertawa geli.

OKEH, SEGITU DULU DEH YA...KAPAN-KAPAN GW BAKAL NGEPOST LAGI CERITA GW

BYE~ C-U

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Lilypie Kids Birthday tickers